IBX5A1391867A36C

Jumat, 01 Desember 2017

Menjaga Kesehatan Psikis si Buah Hati



Menjaga Kesehatan Psikis si Buah Hati

Memelihara kesehatan psikis anak adalah hal yang sangat penting untuk senatiasa diupayakan orangtua. Sebisa mungkin, jangan memberi kesempatan mereka untuk terluka. Mengenai hali ini, patut kita teladani apa yang dilakukan oleh raslullah shalallahu ‘alaihi wasalam.
Suatu saat, beliau sedang menggendong bayi salah seorang sahabat. Tiba-tiba si bayi mengencingi baju beliau. Spontan si ibu merenggut si bayi dari bopongan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sambil berteriak histeris. Si bayi pun menangis karena terkejut. Dengan bijak, rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menasihatkan bahwa itu tak perlu dilakukan karena tangis bayi akibat renggutan in tadi tak akan hilang bekasnya dan akan menbawa pengaruh terhadap jiwanya.


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam terkenal sangat pengasih dan penyayang kepada anak anak dengan amat hati hati menjaga agar seorang bayi tidak sampai menangis. Kenapa? Karena tangis bayi berarti tanda protes. Mungkin perasaannya terluka. Ini perlu dihindarkan meski juga bukan berarti bayi tidak boleh menangis sama sekali. Ada kalanya tangis bayi juga diperlukan untuk memelihara organ organ  dalam tubuhnya. Terkadang, tangis si bayi juga  menjadi hal yang biasa kala si bayi sedang berproses mengurangi egosentrismenya untuk bisa semakin dewasa.


Yang perlu diperhatikan adalah tangis yang disebabkan oleh terlukanya psikologis mereka. Pada anak yang lebih besar, luka psikologis tidak selalu ditandai dengan tangis. Tanda-tandanya bisa lebih majemuk, seperti merajuk, memberontak, mengompol dan masih banyak lagi. Atau malah sebaliknya, tidak tampak sehingga sulit terdeteksi. Namun, bagi orangtua semestinya sudah paham perilaku khas anak anaknya sehingga mereka harus menjadi orang yang pertama kali tahu kapan anaknya terluka hatinya.


Namun, dalam kenyataannya, menjaga kesehatan psikologis anak sangat sulit. Tak ada anak yang tidak memiliki rasa takut. Juga perasaan tegang, gelisag dan khawatir. Mustahil jika anak bisa dihindarkan dari hal halyang menjadi penyebab timbulnya perasaan perasaan itu.
Katakan lah misalnya keperluan pengobatan seperti apa yang dialami orang sakit. Mungkin juga kematian, perpisahan dengan sahabat, ejekan yang menyakitkan hati, kegagalan, kecelakaan dan masih banyak lagi lainnya. Penyebab ini kadangkala diluar dugaan orang tua. Peristiwa pindah rumah, misalnya, bagi orang tua adalah hal yang biasa. Namun bagi abak yang sudah menemukan tempat dan teman yang cocok di rumah lama dan akan menghadapi penyesuaian yang tak mudah di tepmat baru, itu bisa membuatnya menajdi ketakutan. Jangankan pndah, sekedar kehilangan mainan saja bisa menjadikan mereka sedih berlarut-larut
Penyelesaian bisa dicapai bukan dengan lari dan menghindar dari permasalahan. Sebaliknya, suatu masalah bisa diselesaikan dengan memberi bekal persiapan mental bagi anak anak dalam menghadapi situasi dan kondisi yang mungkin melukai hati mereka..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar